Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2024

KEMENANGAN MASA LALU

"Apabila datang singa atau beruang... berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya." (1 Samuel 17:34-35) Ketika ditanya mengapa ia yakin bisa menang melawan Goliat, Daud menjawab dengan menceritakan bagaimana Tuhan menolongnya melawan singa dan beruang. "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya" (ay. 34- 35) . Rasanya konyol menyamakan Goliat dengan binatang buas. Namun, di balik jawaban itu terdapat sebuah keyakinan kuat bahwa jika Tuhan mampu menolongnya melawan musuh yang kecil, Tuhan juga sanggup menolongnya melawan musuh yang besar. Keyakinan seperti itulah yang seharusnya juga kita miliki. Firman Tuhan berkata bahwa Dia tidak pernah be...

UANG

(1 Timotius 6:10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Realistisnya uang memang dapat menyelesaikan banyak masalah, dan dapat membeli kebahagiaan—'sedikit kebahagiaan'. Dengan uang, kita dapat membeli makanan, tempat tinggal, transportasi, dan obat-obatan. Dengan uang, kita dapat membiayai liburan dan kemewahan. Uang juga dapat memberi kita rasa aman—uang yang kita tabung dapat memenuhi kebutuhan kita ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya suatu penyakit dan krisis. Uang membiayai pendidikan anak-anak kita, dengan harapan mereka akan memiliki masa depan yang lebih baik. Namun ada yang tidak dapat dilakukan oleh uang. Ada kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi oleh uang. Uang tidak dapat sungguh-sungguh mengobati hati yang terluka atau memperbaiki hubungan yang rusak. Uang tidak dapat membeli persahabatan atau cint...

SALAH SANGKA

Galatia 6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Perkembangan teknologi digital dan sosial media saat ini sungguh menakjubkan. Ada banyak hal menjadi lebih mudah dan cepat untuk dikerjakan.  Namun sayangnya, perkembangan ini sering disalahgunakan sehingga memunculkan gaya hidup, kebiasaan, dan karakter yang kurang baik. Salah satu contohnya adalah kesombongan atau mengkultuskan diri.  Banyak orang  terobsesi untuk menjadi populer, merasa dirinya hebat, keren, dan mampu, meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Mereka seumpama tong kosong yang berbunyi nyaring. Sebagai orang percaya, kita perlu memperhatikan hal ini. Harus kita sadari bahwa hidup kekristenan yang kita jalani adalah hidup oleh kasih karunia Tuhan. Segala sesuatu yang kita miliki dan yang dapat kita kerjakan, semuanya adalah pemberian Tuhan. Kita hanya menjadi media atau alatNya untuk menyatakan maksud dan kehendakNya...

LIDAHMU, GAMBARAN HATIMU

“Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal, barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya”. (Yakobus 3:2) Sudah beberapa kali Yakobus mengingatkan kita akan dosa karena lidah. Bukankah sering kita ingin mengucapkan sesuatu yang baik tetapi justru sebaliknya yang kita lakukan. Yakobus juga mengingatkan kita betapa sering menjanjikan sesuatu yang besar tanpa mengikutinya dengan perbuatan. Ia mendesak kita agar cepat mendengar dan lambat berkata-kata. Kita perlu mengenakan kekang pada lidah kita. Yakobus menjelaskan lebih lanjut akan bahayanya menjadi guru, suatu tugas yang harus banyak bicara. Berbicara dapat menjadi bahaya jika kita memberikan keterangan yang salah. Dan barangsiapa mengajarkan hal-hal yang salah kepada orang lain, akan diadili lebih berat (Markus 9:42) Yakobus juga menekankan bahwa “tidak ada seorangpun yang sempurna”. Ia berkata: “Kita semua bersalah dalam banyak hal” dan untuk membu...

MARAH, BIASA TAPI JANGAN JADI KEBIASAAN

Efesus 4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.  Kemarahan adalah salah satu kondisi emosi yang seringkali dialami oleh setiap orang, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Berbagai masalah telah timbul sebagai akibat dari kemarahan. Misalnya, kemarahan seringkali menyisakan dendam ataupun kepahitan hati. Dari kisah Kain dan Habel dalam Kej. 4:6-8 , kita mendapati bahwa kemarahan yang tak terkendalikan pada akhirnya hanya akan melahirkan suatu dosa di hadapan Allah. Para penulis kitab hikmat juga mengecam sifat lekas marah dalam diri seseorang. Bukan saja sifat lekas marah, tetapi juga sifat terus-menerus marah (dendam). Jadi, menurut para penulis kitab hikmat, kemarahan itu sendiri wajar, tetapi sifat lekas marah dan terus menerus marah harus ditinggalkan. (Mzm. 37:8; Ams 14:17;Ams 14:29; Ams 19:19a; Ams 22:24; Ams 29:22; Pkh 7:8). Apakah Yesus pernah marah? Jawabannya Ia. Alkitab mencatat bah...

RECYCLED LIFE

"Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,   dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;" (Kolose 3:9-10) Sampah, baik yang busuk dan basah maupun yang kering dan tidak berbau keduanya tidak berguna dan berakhir pada tempat yang sama yaitu pembuangan sampah. Namun, keduanya juga dapat didaur ulang menjadi barang baru dengan fungsi yang baru dan berbeda.  Kurang lebih manusia juga demikian. Mahkluk ciptaan yang berdosa di hadapan Allah, begitu kotor dan rusak hingga layak disamakan dengan sampah, daripadanya tidak ada yang baik hal ini dinyatakan dengan baik dalam Mazmur 14:1-3. Namun, Allah menyediakan sebuah jalan yang saya sebut sebagai “Recycled Life” . Kolose 3:9b-10 “Karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pen...