Galatia 6:3
Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.
Perkembangan teknologi digital dan sosial media saat ini sungguh menakjubkan. Ada banyak hal menjadi lebih mudah dan cepat untuk dikerjakan.
Namun sayangnya, perkembangan ini sering disalahgunakan sehingga memunculkan gaya hidup, kebiasaan, dan karakter yang kurang baik. Salah satu contohnya adalah kesombongan atau mengkultuskan diri.
Banyak orang terobsesi untuk menjadi populer, merasa dirinya hebat, keren, dan mampu, meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Mereka seumpama tong kosong yang berbunyi nyaring.
Sebagai orang percaya, kita perlu memperhatikan hal ini. Harus kita sadari bahwa hidup kekristenan yang kita jalani adalah hidup oleh kasih karunia Tuhan.
Segala sesuatu yang kita miliki dan yang dapat kita kerjakan, semuanya adalah pemberian Tuhan. Kita hanya menjadi media atau alatNya untuk menyatakan maksud dan kehendakNya.
Ini berarti, meskipun ada alasan dan kesempatan bagi kita untuk meninggikan diri; namun seharusnya tidak kita lakukan. Sebaliknya, kita harus kembalikan kehormatan dan kemuliaan itu bagi Tuhan.
Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan agar tidak salah menyangka atau tidak salah menilai diri sendiri. Jangan menganggap diri berarti padahal tidak berarti. Jika dianalogikan secara induktif, kalimat tersebut bisa dikembangkan menjadi: jangan menganggap diri kaya padahal tidak kaya; jangan menganggap diri kudus padahal tidak kudus; jangan menganggap diri baik padahal jahat; jangan menganggap tindakan yang dilakukan benar padahal tidak benar, dan sebagainya.
Alkitab menegaskan, orang yang salah menyangka ini adalah orang yang menipu dirinya sendiri. Inilah yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang, bahwa iblis menggunakan cara-cara yang licik dengan menawarkan penghargaan diri yang bias atau palsu kepada anak-anak Tuhan.
Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk senantiasa waspada ketika mulai muncul keinginan untuk “diangkat dan dihargai tinggi” oleh orang lain.
Mari periksa dan ujilah kapasitas hati kita di dalam kasih karunia Tuhan, supaya bukan diri kita yang dimegahkan tetapi Nama Tuhan yang diagungkan dan ditinggikan lewat hidup kita.
Ingatlah, memperoleh prestasi atau pencapaian tertentu itu memang diperlukan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hanya nama Tuhan yang dimuliakan. Artinya, kita lebih memilih menjadi pribadi yang rendah hati daripada yang menyombongkan diri.
Amsal 18:12 mengingatkan: tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.
Amsal 22:4 mengingatkan: Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.
TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA. AMEN 🙏 LS.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya