Langsung ke konten utama

MARAH, BIASA TAPI JANGAN JADI KEBIASAAN

Efesus 4:26
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. 

Kemarahan adalah salah satu kondisi emosi yang seringkali dialami oleh setiap orang, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Berbagai masalah telah timbul sebagai akibat dari kemarahan. Misalnya, kemarahan seringkali menyisakan dendam ataupun kepahitan hati.

Dari kisah Kain dan Habel dalam Kej. 4:6-8, kita mendapati bahwa kemarahan yang tak terkendalikan pada akhirnya hanya akan melahirkan suatu dosa di hadapan Allah.

Para penulis kitab hikmat juga mengecam sifat lekas marah dalam diri seseorang. Bukan saja sifat lekas marah, tetapi juga sifat terus-menerus marah (dendam). Jadi, menurut para penulis kitab hikmat, kemarahan itu sendiri wajar, tetapi sifat lekas marah dan terus menerus marah harus ditinggalkan. (Mzm. 37:8; Ams 14:17;Ams 14:29; Ams 19:19a; Ams 22:24; Ams 29:22; Pkh 7:8).

Apakah Yesus pernah marah? Jawabannya Ia. Alkitab mencatat bahwa Yesus pernah marah (Mar 3:5;10:14). Salah satu kisah yang menarik di Markus 11:15-19. Dari kisah tersebut, kita melihat bagaimana Yesus marah tetapi tidak berdosa:

Pertama; Yesus marah dikarenakan suatu alasan yang sangat kuat dan signifikan. (Bait suci dijadikan sarang Penyamun.)

Kedua; kemarahan Yesus ditujukan pada orang yang “tepat”. (Pada pedagang yang melakukan Ketidak jujuran dalam jual beli hewan korban)

Ketiga; Yesus tidak di kuasai dengan kemarahanNya. Dia mengekspresikan kemarahan dengan cara yang tepat. (Mengusir Pedagang lalu Menjungkir balikkan meja pedagang)

Bolehkah marah? Boleh. Tetapi jangan mudah terburu-buru menjadi marah. Sebelum memutuskan untuk memarahi seseorang, perhatikan beberapa hal berikut:

1. Apakah saya mempunyai alasan yang tepat untuk marah?
2. Apakah orang yang akan saya marahi ini adalah betul-betul orang yang “tepat”?
3. Apakah cara marah saya menunjukan bahwa saya menguasai kemarahan saya?
4. Apakah setelah saya memarahi seseorang, saya bersedia untuk memafkan dan menerimanya kembali?

GBU.SW.

Komentar