Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

MASA LALU Vs MASA DEPAN

Yesaya 43:18-19 mengajak kita untuk tidak terpaku pada masa lalu. Kita sering kali terjebak dalam penyesalan atau kebanggaan akan pengalaman masa lalu. Namun, Tuhan mengajak kita di akhir tahun ini untuk melihat ke depan di Tahun baru 2025 yang akan datang dengan hal yang baru. Apa artinya bagi kita hari ini? Lepaskan Beban Masa Lalu: Kita semua punya masa lalu yang mungkin penuh dengan kesalahan atau pencapaian. Namun, masa lalu tidak menentukan masa depan kita. Rangkul Kemungkinan Baru: Tuhan selalu bekerja dalam hidup kita, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. Dia sedang menyiapkan hal-hal baru yang luar biasa. Percaya pada Proses: Perubahan itu perlu waktu. Sama seperti padang gurun yang gersang bisa menjadi subur, hidup kita pun bisa mengalami transformasi yang menakjubkan. Berhenti membandingkan diri: Kita unik dan punya perjalanan hidup masing-masing. Fokus pada tujuan: Tetapkan tujuan yang jelas dan langkah-langkah untuk mencapainya. Berdoa dan bersyukur: Ajak T...

CONSENT

Lukas 1:26-38 Istilah consent berarti izin. Contohnya, ketika seseorang hendak dioperasi, orang itu atau walinya harus menandatangani formulir consent untuk menyatakan izinnya atas diadakannya operasi. Jika tidak, tindakan medis itu dapat dituntut sebagai malpraktik. Contoh lainnya, sebelum menyentuh seseorang, diperlukan consent agar perbuatan itu tidak dianggap sebagai pelecehan. Maria, sewaktu ia mendengar berita dari malaikat, tidak serta-merta menolak ataupun menerima. Ia mempertanyakan kemungkinan dia hamil, sebab ia belum pernah berhubungan dengan laki-laki (34). Setelah mendapatkan penjelasan lebih lanjut, barulah Maria memosisikan dirinya sebagai hamba yang tidak bisa mengelak dari kehendak Allah, sekaligus memberikan consent atas rencana-Nya untuk terjadi dalam dirinya, "... Jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (38). Mungkin kita berpikir bahwa Allah bisa saja melakukan karya-Nya tanpa consent dari manusia. Ia adalah Allah Yang Mahakuasa dan Pemil...

KEPICIKAN ROHANI

2 Petrus 1:9: "Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.” (baca 2 PET. 1:3-9) Kepicikan rohani merujuk pada kondisi di mana seseorang tidak mampu melihat atau memahami kebenaran rohani. Ini seperti memiliki mata namun buta terhadap keindahan dan keajaiban spiritual. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti dosa, keangkuhan, atau penolakan terhadap kebenaran Allah. Allah sudah memberikan semua yang kita butuhkan untuk hidup benar. Dia telah memanggil kita untuk hidup yang mulia dan memberkati kita dengan segala sesuatu yang baik. Tugas kita sekarang adalah terus bertumbuh dalam iman dan menerapkan apa yang sudah kita pelajari. Untuk itu marilah kita terus: Bersyukur: Ingatlah semua berkat yang sudah Allah berikan. Bertumbuh: Teruslah belajar tentang Allah dan Firman-Nya. Berbuah (berubah): Ubahlah hidupmu agar semakin menyerupai Kristus. Berbagi: Bagikan apa ya...