Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2024

BERBAGI TAK PERNAH RUGI

Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (Kisah Para Rasul 4:34-35) “Punyaku! Punyaku!” Kita sering mendengar anak-anak berteriak seperti itu. Dan, tidak mudah menengahi pertengkaran mereka. Begitulah sifat bawaan manusia sejak lahir. Senantiasa ingin memiliki, semakin banyak semakin baik. Kita cinderung kurang mepedulikan kebutuhan orang lain. Karena itu, sikap jemaat mula-mula sungguh tak terduga: mereka justru saling berbagi dengan penuh semangat. Mereka sehati sejiwa oleh pekerjaan Roh Kudus (ay. 32). Itulah gambaran tubuh Kristus. Bila satu orang menderita, semua yang lain ikut menderita. Begitu pula bila mereka memiliki harta, harta itu menjadi milik bersama. Semua “milik bersama” ini dikelola dan dibagi oleh orang-oran...

PARA PENCARI TUHAN

Di dunia ini, ada beragam jenis orang yang mencari Tuhan. Yang membedakan adalah motif orang dalam mencari. Tidak semua orang mengingini Tuhan dengan hati yang murni. Banyak motivasi, banyak pula tujuan. Di sinilah kita perlu melihat hati kita kembali, apakah kita benar mengingini Tuhan dengan benar. Setidaknya ada 4 motif:  1. Pencari yang Ikut-Ikutan Tipe ini mencari Tuhan karena teman-temannya melakukannya. Ibarat mengikuti tren, mereka hadir di kebaktian atau kegiatan rohani bukan karena dorongan hati, melainkan karena tak ingin ketinggalan bestie mereka.  Mengingat peringatan dalam 1 Korintus 11:1 yang berbunyi, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus,” tipe ini perlu memikirkan apakah mereka mencari Tuhan atau sekadar ‘ikut arus’. 2. Pencari dengan Motivasi Tersembunyi Jenis kedua adalah mereka yang mencari Tuhan karena alasan-alasan tertentu, misalnya mau jodoh di gereja atau mengharapkan mujizat. Tentu, Tuhan memahami hati setia...

PERSAMI

Kamu harus bersukaria di hadapan Tuhan, Allahmu, tujuh hari lamanya. –Imamat 23:40 Perayaan Hari Raya Pondok Daun (Imamat 23:33-43) mungkin terasa aneh bagi kita (pembaca saat ini). Namun, bagi orang Israel, membangun tempat perteduhan di tempat terbuka dengan hanya dedaunan dan daun palem sebagai atapnya merupakan ekspresi kepercayaan kepada Allah yang dirayakan dalam hari raya tersebut. Ini merupakan pengakuan eksplisit yang menyatakan bahwa Allah adalah pelindung yang cukup bagi umat-Nya. Allah memakai PERSAMI (Perkemahan Satu Minggu) untuk mengajar umat-Nya. Setahun sekali, selama seminggu penuh, orang Israel harus tinggal dalam semacam kemah yang terbuat dari “ pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa” (Im. 23:40). Tujuannya ada dua. Allah berfirman kepada mereka: “Setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun, supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh...

BERPEGANG TEGUH PADA KEBENARAN

Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.- Efesus 4:15 (TB) Kita harus menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih, sehingga dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus, yang menjadi kepala kita. –Efesus 4:15 (BIMK) Dalam banyak peran dan relasi kita, sering kali kita justru lebih berusaha menyenangkan orang lain ketimbang membangun satu sama lain dalam kesatuan, suatu sikap yang didorong oleh Rasul Paulus. Dalam Efesus 4, Paulus menulis, “[Kristus]lah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman” (ay. 11-13). Dalam ayat 15-16, Paulus menegur kecenderungan kita untuk menyenangkan orang lain. Ia menekankan bahwa karunia...