Kolose 3:15 (TB) mengatakan, "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah."
Bpk/Ibu/Saudara, pernahkah merasa hati kita seperti lapangan pertandingan yang riuh? Berbagai "pemain" – kecemasan akan masa depan, tekanan pekerjaan, hiruk pikuk media sosial, bahkan konflik interpersonal – semua berebut perhatian dan mencoba mencetak gol kegelisahan. Notifikasi di ponsel seolah menjadi komentator yang tak henti-hentinya memanaskan suasana.
Di sinilah Kolose 3:15 menawarkan sebuah solusi yang unik dan relevan. Kata "memerintah" dalam bahasa aslinya (Yunani: βραβευέτω - brabeuetō) memiliki makna seperti seorang wasit atau juri yang memutuskan dan menjaga ketertiban dalam sebuah pertandingan. Damai sejahtera Kristus bukanlah sekadar perasaan tenang pasif, melainkan sebuah otoritas aktif yang Tuhan berikan untuk menjadi "wasit" di hati kita.
Bagaimana Damai Kristus Menjadi Wasit?
* Filter Keputusan:
Di tengah banjir informasi dan opsi, biarkan damai Kristus menjadi filter. Saat sebuah pilihan membuat damai itu terusik, mungkin itu "pelanggaran" yang perlu ditinjau ulang. Sebaliknya, jika ada ketenangan ilahi yang menyertai, itu bisa jadi "keputusan sah" dari Sang Wasit.
* Penjaga Kesatuan
"Satu Tubuh" : Ayat ini mengingatkan kita dipanggil menjadi "satu tubuh". Di era polarisasi ini, di mana perbedaan mudah menjadi perpecahan, damai Kristus dalam hati individu akan memampukan kita membangun jembatan, bukan tembok. Jika tindakan atau perkataan kita berpotensi merusak kesatuan "tubuh" (keluarga, komunitas, gereja, bangsa), Sang Wasit akan meniup peluit peringatan.
* Katalisator Syukur:
Perintah "bersyukurlah" bukan sekadar tempelan. Syukur adalah respons alami hati yang dipimpin damai Kristus. Ketika Sang Wasit bekerja, kita jadi lebih mudah melihat kebaikan Tuhan di tengah segala situasi, sekecil apapun. Syukur ini kemudian memperkuat damai itu sendiri, menciptakan siklus positif.
Tantangan Hari Ini:
Di tengah riuhnya notifikasi kehidupan yang seringkali mencuri damai, beranikah kita menyerahkan "peluit" hati kita kepada Kristus? Biarkan damai-Nya bukan hanya hadir, tapi sungguh-sungguh memerintah – menjadi Wasit yang menentukan arah pikiran, perkataan, dan tindakan kita. Dengan begitu, kita tidak hanya menemukan ketenangan pribadi, tetapi juga menjadi agen damai bagi dunia di sekitar kita, sambil terus mengucap syukur.
Suara siapakah yang paling keras di hatimu saat ini? Izinkan Damai Kristus mengambil alih sebagai Sang Wasit Agung. GBU. SW
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya