Di tengah hiruk pikuk dunia modern, muncul sebuah fenomena yang menarik perhatian: FOGO, atau Fear Of Going Out. Berbeda dengan FOMO (Fear Of Missing Out) yang mendorong kita untuk terus berpartisipasi agar tidak ketinggalan, FOGO justru menarik kita ke dalam cangkang kenyamanan rumah, menjauhkan kita dari interaksi sosial dan dunia luar. Kecemasan akan keramaian, ketidakpastian, atau bahkan sekadar kelelahan, bisa menjadi pemicu FOGO. Kita mungkin merasa lebih aman dan terkontrol di dalam "benteng" pribadi kita.
Namun, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melampaui batasan-batasan ini.
Matius 28:19-20 dengan tegas menyatakan:
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Ayat ini, yang dikenal sebagai Amanat Agung, bukanlah sekadar anjuran, melainkan sebuah perintah. Perintah untuk "pergi". Perintah untuk melangkah keluar dari zona nyaman kita dan menjangkau dunia. FOGO, dalam konteks ini, bisa menjadi penghalang serius bagi pemenuhan Amanat Agung. Jika kita terus-menerus terkurung dalam ketakutan untuk keluar, bagaimana kita bisa "menjadikan semua bangsa murid," "membaptis mereka," dan "mengajar mereka"?
Tentu, penting untuk bijak dan menjaga diri dalam segala situasi, terutama di masa-masa penuh tantangan. Namun, ketakutan yang melumpuhkan dan membuat kita mengisolasi diri secara berlebihan bukanlah kehendak Tuhan. Amanat Agung justru mengundang kita untuk berani melangkah, bahkan ketika ada rasa tidak nyaman.
Berita baiknya adalah, kita tidak sendiri. Yesus sendiri menjanjikan: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Ini adalah janji yang luar biasa! Kehadiran-Nya yang kekal memberikan kita keberanian untuk menghadapi ketidakpastian, untuk berinteraksi dengan orang lain, dan untuk memberitakan Injil, bahkan di tengah kecemasan.
Maka, marilah kita merenungkan:
* Apakah FOGO menghalangi kita untuk menjalankan Amanat Agung?
* Bagaimana kita bisa melawan dorongan untuk mengisolasi diri demi tujuan yang lebih besar?
* Bagaimana kita dapat mengandalkan janji penyertaan Kristus untuk melangkah keluar dengan iman?
Mungkin "pergi" tidak selalu berarti melakukan perjalanan jauh. Bisa jadi, "pergi" berarti berinteraksi dengan tetangga, menjenguk teman yang sakit, atau bahkan sekadar lebih aktif di komunitas gereja. Yang terpenting adalah semangat untuk tidak terkurung oleh ketakutan, melainkan untuk melangkah keluar dengan kasih dan keberanian, karena kita tahu Tuhan menyertai kita.
Mari kita jadikan Matius 28:19-20 sebagai pengingat bahwa panggilan kita lebih besar dari ketakutan pribadi kita. Apakah kita siap untuk melangkah keluar hari ini? GBU SW.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya