MARI KITA RENUNGKAN apa yang terjadi ketika setiap orang punya definisi “baik” yang subyektif dan tidak sempurna. Ada beberapa kemungkinan:
Pertama, kita memilih aturan-aturan sendiri. Ketika masyarakat tidak bisa sepakat tentang apa yang benar dan salah, setiap individu akan mengandalkan nilai moralnya masing-masing. Namun, mengingat hati nurani kita tidak sempurna, cara ini tidak ideal. Kalau tiap orang punya standar sendiri-sendiri, sulit dikatakan siapa yang benar-benar baik.
Kedua, kita mendahulukan diri sendiri. Tanpa titik acuan yang obyektif dalam hidup ini, kemungkinan besar kita akan memprioritaskan keinginan dan kebutuhan kita sendiri, atau keinginan dan kebutuhan orang-orang yang kita cintai, serta membenarkan standar-standar moral yang memungkinkan kita untuk terus memburu sasaran tersebut.
Ketiga, kita mentoleransi diri sendiri. Dengan standar-standar moral yang tidak mutlak, kita bisa tergoda untuk membengkokkan aturan atau menurunkan standar kita sendiri. Kita mulai membiarkan kesalahan-kesalahan “kecil,” berdalih dengan alasan “kelemahan diri”, atau membuat pengecualian-pengecualian karena “dipaksa oleh keadaan.”
Apa yang terjadi ketika kita mereka-reka aturan sendiri atau memelintirnya semau kita? Tak hanya mustahil menjadi pribadi yang benar-benar baik senantiasa, kita juga akan sulit hidup bersama orang lain dengan harmonis. Bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan? Bayangkan jika kita membangun rumah sesuka hati, bukan berdasarkan cetak biru yang dirancang sesuai standar sipil dan arsitektur yang benar. Kita bisa menggarap proyeknya sebaik mungkin dan mengaku bahwa strukturnya kokoh, tetapi rumah itu tetap saja tidak aman untuk ditinggali. Serajin dan segiat apa pun orang menggarapnya, kurangnya pengetahuan tentang seluk-beluk konstruksi akan menghasilkan kegagalan.
Jadi, tampaknya, akar masalahnya adalah kita sendiri! Meskipun tulus berkemauan dan berusaha menjadi pribadi yang baik, kita dikecewakan oleh hati nurani yang tidak sempurna serta kodrat manusia yang patut dipertanyakan, mementingkan diri, dan mudah takluk kepada godaan. Standar kebaikan kita pun tidak sempurna karena ditentukan oleh diri sendiri. Secara naluriah, kita tahu bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun, bagaimana caranya? Jika hati nurani dan hukum tak dapat diandalkan, dan upaya kita untuk menjadi orang baik jauh dari sempurna, bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang benar-benar baik?
Ibrani 9:14 (TB) betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya